Raytecho -->
Latest Update
Fetching data...

Jumat, 20 September 2019

Naskah Drama Dongeng Nabi Sulaiman Alahissalam Dan Ratu Bilqis

Naskah Drama Dongeng Nabi Sulaiman Alahissalam Dan Ratu Bilqis

Kisah Nabi Sulaiman Alahissalam

D
I
S
U
S
U
N

OLEH :

Kelompok 4
1.    ...............................
2.    ...............................
3.    ...............................
4.    ...............................
5.    ...............................
6.    ...............................
7.    ...............................

Kelas : ..................

Guru Pembimbing : .............................

SMA/SMK ..................................

Tahun Ajaran 20..../20....


Naskah Drama Kisah Nabi Sulaiman Alahissalam dan Ratu Bilqis

Pemain
1.     Nabi Sulaiman diperankan oleh ......................
2.     Ratu Bilqis diperankan oleh .........................
3.     Burung Hud-hud diperankan oleh .........................
4.     Prajurit 1 diperankan oleh ............................
5.     Prajurit 2 diperankan oleh .......................
6.     Pembesar 1 diperankan oleh ..........................
7.     Pembesar 2 deperankan oleh .........................
8.     Utusan diperankan oleh ........................
9.     Jin Ifrit diperankan oleh ..........................
10.  Semut diperankan oleh ..........................

Nabi Sulaiman Alaihissalam yaitu seorang raja yang penuh kewibawaan. Kerajaannya begitu luas dan megah. Ia dikaruniai Allah Subhana Wa Ta’ala mukjizat yang tak dimiliki oleh nabi-nabi lain yaitu bisa berbicara dengan golongan binatang dan menguasai bahasa binatang.
Suatu ketika Nabi Sulaiman Alaihissalam dipertemukan dengan Ratu Bilqis yang menyembah matahari beserta seluruh pengikutnya dikerajaan Saba’. Akankah pertemuan dengan Nabi Sulaiman Alaihissalam menciptakan Ratu Bilqis menyembah Allah Subhana Wa Ta’ala? Mari kita simak kisahnya bersama-sama!

Adegan 1
Nabi Sulaiman Alahissalam mengadakan pertemuan besar. Namun burung hud-hud belum hadir dalam pertemuan itu.
Sulaiman      : “Dimanakah burung Hud-hud? Kenapa beliau tidak kelihatan?”
Prajurit 1     : “Maaf, Baginda raja. Kami tidak tahu.”
Sulaiman      : “Padahal beliau punya kiprah penting!” (sambil menahan marah)
Prajurit 1     : “Semoga burung hud-hud segera datang, Baginda” (menunduk)

Burung Hud-hud tiba-tiba tiba dengan nafas yang tersengal-sengal.
Hud-hud       : “Ampun, Baginda raja. Aku terlambat.”
Sulaiman      “Kenapa kau terlambat?”
Hud-hud       : Aku gres melihat kerajaan Saba. Kerajaan itu sangat makmur dan diperintah oleh seorang ratu berjulukan Bilqis. Tapi...
Sulaiman      : “Tapi kenapa?”
Hud-hud       : “Mereka menyembah matahari.”
Prajurit 1     : “Apakah kau tidak bohong?”
Hud-hud       : “Aku tidak bohong.”

Adegan 2
Nabi Sulaiman Alahissalam pun tertarik dengan dongeng Hud-hud dan bermaksud mengajak ratu Bilqis untuk menyembah Allah Subhana Wa Ta’ala. Nabi Sulaiman Alahissalam pun menulis surat kepada Ratu Bilqis dan memerintahkan burung Hud-hud untuk mengantarkan surat tersebut. Sesampai di kerajaan Saba’ burung Hud-hud pun menemui Ratu Bilqis di singgasananya kemudian meletakkan sepucuk surat.
Pembesar 1  : “Burung apakah itu?”, “Dia sangat cerdik!
Pembesar 2  : “Lihat burung itu menawarkan surat kepada Ratu Bilqis.”
Ratu Bilqis   : (membuka surat) “Dia mengantarkan surat dari Raja Sulaiman.”

Ratu kemudian membaca surat itu.
Dengan nama Allah yang maha pemurah lagi maha penyayang. Bahwa janganlah kau berlaku sombong terhadapku. Dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.
Sesungguhnya saya mengajakmu menyembah Allah yang kuasa semesta alam. Hentikanlah cara beribadah menyembah matahari. Karena sebenarnya itu sikap orang-orang kafir.
Setelah membaca surat dari Nabi Sulaiman Alahissalam, Ratu bilgis bertanya kepada para pembesarnya.
Ratu Bilgis     : “Hai para pembesarku bantu saya dalam menuntaskan duduk perkara ini.”
Pembesar 1   : Kita yaitu orang-orang yang mempunyai kekuatan dan juga mempunyai kekuasaan. Apapun perintah Ratu akan saya laksanakan.
Ratu Bilgis     : “Baiklah jikalau begitu bawa Utusanku kesini, cepat...” (dengan nada bunyi keras)
Pembesar 1   : “Baik Ratuku” (bergegas melaksanakan perintah)

Datanglah Utusan tersebut
Utusan          : “Wahai Ratuku, ada apa hamba diminta menghadap?”
Ratu Bilqis    : Antarkan surat dan hadiah ini pada Raja Sulaiman.
Utusan          : Baik Ratuku... (bergegas pergi meninggalkan kerajaan)

Adegan 3
Ratu Bilqis kemudian mengirimkan surat jawaban kepada Nabi Sulaiman Alhissalam. Seorang utusan tiba ke kerajaan Nabi Sulaiman Alahissalama dengan membawa hadiah-hadiah untuk merayu hati sang Raja.
Utusan        : Ini surat daru Ratu Bilqis dan hadiah-hadiah ini untuk Raja Sulaiman.
                     (sambil menyerahkan surat dan hadiah kepada Nabi Sulaiman Alahissalam)
Sulaiman     : “Bawalah kembali hadiah ini!”
Utusan        : “Kenapa wahai Raja?”
Sulaiman  Apakah (Patut) kau menolong saya dengan harta? Maka apa yang diberikan Allah Subhana Wa Ta'ala kepadaku lebih baik dari pada apa yang diberikannya kepaamu; tetapi kau merasa gembira dengan hadiahmu.

Utusan pun kembali ke kerajaan Saba’. Ratu Bilqis pun karenanya berniat mendatangi kerajaan Nabi Sulaiman Alhiss. Kabar itu kemudian diketahui Nabi Sulaiman Alahissalama.

Adegan 4
          Nabi Sulaiman Alahissalam mengajak semua prajurit berkumpul untuk menyambut kedatangan rombongan Ratu Bilqis.
Sulaiman      : “Wahai seluruh prajuritku, cepatlah berkumpul, saya akan memberitahukan kabar penting pada kalian semua.”
Prajurit 1, 2
dan              : “Kabar penting apa baginda?”
Jin Ifrit
Sulaiman   : “Besok Ratu Bilqis akan tiba kemari, persiapkan diri kalian untuk menyambut kedatangannya.
Prajurit 1, 2
dan              : “Baik Baginda Raja...”
Jin Ifrit
Sulaiman      : Sebelum Ratu Bilgis datang, mari kita menawarkan kejutan untuknya.
Prajurit 1, 2
dan              : 
“Kejutan apa tuan?”
Jin Ifrit
Sulaiman      : “Diantara kalian siapa yang bisa memindahkan istana Ratu Bilqis?”
Prajurit 1     : Untuk apa kita memindahkan istana Ratu Bilgis kesini?
Sulaiman      : Supaya beliau sadar akan kekuasaan dan karunia Allah Subhana Wa Ta'ala 
Prajurit 1, 2
dan              : “Ooooooo..... Begitu tho...., betul...betul...betul...”
Jin Ifrit
Jin Ifrit        : “Saya sanggup baginda raja, saya akan tiba dengan membawa singgasana itu kepada baginda sebelum baginda bangkit dari daerah duduk. Sesungguhnya saya benar-benar berpengaruh untuk membawanya dan lagi sanggup dipercaya.”

Nabi Sulaiman Alahissalam tidak mengomentari sedikit pun terhadap apa yang dikatakan oleh jin Ifrit. Tampak ia menunggu tanggapan lain yang bisa menghadirkan singgasana Bilqis yang lebih cepat dari itu. Sulaiman menoleh kepada seseorang di sana yang duduk di atas naungan (seorang yang mempunyai ilmu dari al-Kitab).

Orang yang Mempunyai Ilmu Kitab :
Saya akan membawa singgahsana itu kepada baginda sebelum mata baginda berkedip.


Belum usang seseorang yang mempunyai ilmu dari al-Kitab menyatakan kalimatnya sehingga singga sana itu muncul di hadapan Nabi Sulaiman Alahissalam. Ia bisa menghadirkan singgasana itu lebih cepat atau lebih sedikit dari kedipan mata ketika mata itu tertutup dan terbuka. Al-Qur'an al-Karim tidak menyingkap kepribadian seseorang yang menghadirkan singgasana itu. Al-Qur'an hanya menggaris bawahi bahwa orang itu mempunyai ilmu dari al-Kitab. Al-Qur'an tidak menjelaskan kepada kita, apakah ia seorang malaikat atau insan atau jin. Begitu juga Al-Qur'an al-Karim tampaknya menyembunyikan kitab yang dimaksud di mana darinya orang tersebut mempunyai kemampuan yang luar biasa ini.

Sulaiman       : “Ini yaitu termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku, apakah aku-bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barang siapa yang bersyukur, maka sebenarnya beliau bersyukur untuk (kebaikan) dirimu sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sebenarnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.", Ya Allah Terimakasih atas karunia-Mu.
Prajurit 1,2,
dan               : “Maha besar Allah....”
Jin Ifrit

Adegan 5
Semut-semut sedang berlalu-lalang. Nabi Sulaiman Alahissalam menyuruh para semut untuk menepi supaya tidak diinjak oleh Ratu Bilqis dan rombongannya. 
Sulaiman      : “Hai semut-semut! Menepilah!”
Semut          : “Baik, baginda raja!”(semut-semut kemudian menepi)

Ratu Bilqis pun datang. Ia sangat takjub dengan pemandangan di depannya. Istanya di sana ibarat sekali dengan yang beliau miliki. (Ratu bilqis dan para prajuritnya tiba ke istana Raja Sulaiman dengan menyayikan lagu dengan nada Cinderela di ubah syair lagunya menjadi  “Ratu Bilqispun tiba dengan para prajurit untuk menemui Nabi Sulaiman Alahissalam”).
Ratu Bilqis    : “ Waww..... megah sekali istana ini, ibarat sekali dengan istanaku.”
Sulaiman      : “Istanamu kupindahkan kemari.”

Ratu Bilqis pun semakin kagum dan heran dengan mukjizat Nabi Sulaiman Alahissalam yang bisa melaksanakan itu semua. Ia kemudian berjalan di atas lantai beling yang ia pikir yaitu lantai penuh air. Ratu Bilqis mengangkat gaunnya alasannya yaitu takut basah.
Sulaiman      : “Tidak usah diangkat, ini bukan air!”
Ratu Bilqis    : “Benarkah?” (Ratu menurunkan gaun)
Prajurit 1     : “Benar, Ratu.”
Sulaiman      : “Inilah bukti kekusaan Allah Subhana Wa Ta’ala”
Ratu Bilgis    : “Ya Tuhanku
Ma’afkan saya tidak mengenalmu
Matahari yang selama ini saya sembah
Bukanlah Tuhanku
Ya Allah jaga dan lindungilah aku
Aku berjanji akan berserah diri kepada-Mu
Terimakasih sudah menbuka pintu hatiku (sambil bersujud)”

Maka semenjak ketika itu pun kedua kerajaan saling menjalin kerjasama. Dengan pendekatan yang halus dan penuh kesabaran yang dilakukan oleh Nabi Sulaiman Alahiwassalam, karenanya Ratu Bilqis mau menyembah Allah Subhana Wa Ta’ala dan mengharuskan penduduk Saba’ meninggalkan matahari, kemudian tolong-menolong menyembah Allah Subhana Wa Ta’ala.

Suatu ketika, Nabi Sulaiman Alahissalam pun menyebabkan Ratu Bilqis sebagai istrinya. Mereka pun hidup senang dengan dua kekuatan kerajaan besar untuk terus berjuang mengemban amanat dari Allah untuk memberantas segala bentuk kemusyrikan dan menyebarluaskan kebenaran hingga agama Allah Subhana Wa Ta’ala bangkit tegak dimuka bumi.

**Selesai**
Read More

Rabu, 18 September 2019

Wudhu, Syarat-Syarat Wudhu, Dan Rukun Wudhu

Majelis Ilmu Fiqih Bersama
Ustadz Ahmad Syaripudin, S.Th.I

Kitab/Ilmu Fiqih
Bab 4 & 5 : Wudhu & Rukun Wudhu


Wudhu : Bersih, Cemerlang, dan Indah
Wudhu menurut istila (syari’at islam) artinya memakai air pada anggota tubuh tertentu yang dimulai dengan niat guna menghilangkan hadast kecil
Wudhu hukumnya yaitu wajib bagi orang yang berhadasts apabila ia ingin melaksanakan sholat, thawaf, dan banyak sekali ibadah yang mensyaratkan suci dari hadast kecil.
Wudhu itu potongan dari tha’harah dalam melakukan/melaksanakan ibadah. Wudhu yaitu potongan tha’harah/bab suci untuk menghilangkan hadast kecil. Sedangkan hadast besar dihilangkan dengan mandi wajib. Dan najis harus dibersihkan dengan sebersih-bersihnya.

Syarat-Syarat Wudhu
1.  Islam
Sehingga secara syariat wudhu orang yang bukan islam/no-muslim tidak sah. Sebab non-muslim tidak dibebani kewajiban melaksanakan shalat dan lain-lainnya yang mengharuskan ia suci dari hadast
2.  Mumayyiz
Mumayyiz yaitu orang yang sudah dapat membedahkan mana yang baik dan buruk.
Tamyiz (Cukup umur dan berakal). Saat seorang anak mencapai umur tamyiz ia mulai dibebani dengan kewajiban-kewajiban ibarat shalat dan lainnya (Ibadah Wajib lainnya), sehingga otomatis wudhu yang merupakan salah satu media bersuci menjadi hal yang wajib dilakukan anak yang menginjak umur tamyiz. Umur tamyiz berdasarkan lebih banyak didominasi ulama yaitu 7 tahun.
3.  Tidak Sedang Berhadast Besar
Harus suci dari haidh dan nifas yang merupakan hadast besar. Tidak sah bersuci dengan  tetapnya hadast tersebut. Ini selagi perempuan tersebut dalam keadaan haid atau nifas.
4.  Berwudhu Dengan Air Mutlak
Air yang dipakai untuk wudhu mesti suci menyucikan dan air yang boleh dipakai baik milik langsung atau umum.
5.  Tidak Ada Yang Menghalangi Anggota Badan/Tubuh
Contoh: Cicin, jam tangan, melipat lengan baju/pakaian dll yang menghalangi masuk/basuhan air wudhu di anggota tubuh

Rukun Wudhu
Rukun wudhu tersebut dijelaskan pada firman Allah Subhana Wa Ta’ala dalam Surat Al-Maidah ayat 6.
Hai orang-orang yang beriman, apabila kau hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu hingga dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu hingga dengan kedua mata kaki.. (QS. Al Maidah: 6)
Adapun rukun atau fardhu wudhu ada enam sebagai berikut:
1.     Niat
Yakni menyengaja untuk berwudhu. Pembahasan lebih detil dan lafadznya dibahas di Niat Wudhu
2.     Membasuh wajah
Wajib membasuh seluruh wajah mulai dahi hingga dagu, termasuk janggut. Mulai dari tepi kanan yang berbatasan dengan indera pendengaran kanan hingga tepi kiri yang berbatasan dengan indera pendengaran kiri.
3.     Membasuh tangan hingga siku
Wajib membasuh kedua tangan hingga siku. Bahkan seluruh bulu dan kulit tangan harus ikut dibasuh.
4.     Mengusap (sebagian) kepala
Wajib mengusap sebagian kepala dengan air. Wudhu tetap sah walaupun hanya sebagian yang terkena air.
5.     Membasuh kaki hingga mata kaki
Wajib membasuh kedua kaki, yakni mulai ujung jari dan kukunya hingga mata kaki. Seluruh bulu dan kulit kaki juga harus dibasuh.
6.     Tertib
Yakni berurutan mulai niat hingga membasuh kaki.


Adapun rukun atau fardhu wudhu ada enam sebagai berikut:
1.     Niat
Yakni menyengaja untuk berwudhu. Pembahasan lebih detil dan lafadznya dibahas di Niat Wudhu
2.     Membasuh wajah
Wajib membasuh seluruh wajah mulai dahi hingga dagu, termasuk janggut. Mulai dari tepi kanan yang berbatasan dengan indera pendengaran kanan hingga tepi kiri yang berbatasan dengan indera pendengaran kiri.
3.     Membasuh tangan hingga siku
Wajib membasuh kedua tangan hingga siku. Bahkan seluruh bulu dan kulit tangan harus ikut dibasuh.
4.     Mengusap (sebagian) kepala
Wajib mengusap sebagian kepala dengan air. Wudhu tetap sah walaupun hanya sebagian yang terkena air.
5.     Membasuh kaki hingga mata kaki
Wajib membasuh kedua kaki, yakni mulai ujung jari dan kukunya hingga mata kaki. Seluruh bulu dan kulit kaki juga harus dibasuh.
6.     Tertib
Yakni berurutan mulai niat hingga membasuh kaki.

Catatan Penting:
Tayamum jangan ada/di niatkan untuk membersihkan atau tidak dapat membersihkan hadast dan hanya sekedar syarat untuk melaksanakan ibadah.
Read More