Raytecho: Ekskresi -->
Latest Update
Fetching data...

Senin, 03 April 2017

Osmoregulasi Pada Insan Dan Hewan

Osmoregulasi atau pengaturan cairan tubuh, sangat penting bagi kelangsungan hidup suatu organisme, terutama binatang yang hidup di air. Hal ini dikarenakan kondisi cairan badan suatu organisme akan menghipnotis kondisi fisiologisnya. Sehingga kalau kondisi cairan tidak normal, maka acara fisiologis lainnya akan terganggu.

Gambar 1. Minum ialah salah satu upaya osmoregulasi


Osmoregulasi merupakan prosedur fisiologis yang berupaya untuk menjaga kondisi cairan badan dalam batas kondusif (homeostasis). Kondisi cairan badan biasanya dikenali dengan osmolaritas, atau tekanan osmotik suatu cairan. Jika osmolaritasnya tinggi, maka berarti badan kekurangan cairan (banyak zat terlarut), dan juga sebaliknya. Pada pembahasan kali ini, penulis akan menyajikan 3 prosedur osmoregulasi, yaitu pada insan (hewan darat lainnya), ikan (air asin dan air tawar), dan burung laut.

Osmoregulasi Pada Manusia

Di dalam badan manusia, osmoregulasi berlangsung pada sebuah prosedur fisiologis yang berkaitan bersahabat dengan sistem ekskresi. Keterkaitan itu digambarkan dalam sketsa di bawah ini, sedangkan untuk sistem ekskresi pada insan sanggup dibaca di sini dan di sini.

Gambar 2. Osmoregulasi oleh ADH, sumber: biology 9th edition (Campbell, et. al.)

Keterangan:
Jika badan kekurangan air, maka ADH akan meningkat, dan volume urin sedikit --> penghematan air
Jika badan cukup air, maka ADH akan menurun, dan volume air normal atau banyak --> air dikeluarkan

Berdasarkan sketsa di atas, osmoregulasi pada insan melibatkan tiga sistem sekaligus, yaitu sistem hormon, peredaran, dan ekskresi. ADH diharapkan dalam upaya penghematan air pada dikala osmolaritas tinggi. Peningkatan jumlah ADH di dalam darah sekitar ginjal akan merangsang tubulus distal ginjal untuk meningkatkan perembesan air, berarti pada dikala itu badan dalam keadaan kekurangan cairan (bisa sebab kelelahan, dehidrasi, dll), sehingga volume urin yang dihasilkan sangat sedikit. Begitupun sebaliknya, ketika ADH dalam darah sekitar ginjal dalam jumlah normal, maka tidak ada yang merangsang ginjal untuk meningkatkan perembesan air di tubulus distal, berarti kondisi cairan dalam badan normal, sehingga volume urin yang dihasilkan normal. Namun, kalau ADH sangat sedikit (tidak ada), maka tubulus distal akan mengurangi perembesan air, bahkan cenderung menambahkan ke dalam urin, sehingga volume urin meningkat drastis. Jika kondisi ini berlangsung terus menerus maka sanggup diindikasikan sebgaia diabetes insipidus.

Osmoregulasi Pada Ikan

Ikan ialah binatang yang menghabiskan 100% hidupnya di dalam air. Namun, binatang jenis ini juga mempunyai permasalahan dalam pengaturan kadar air di dalam tubuhnya, kok bisa? Hal ini dikarenakan air sebagai medium kawasan tinggal ikan mempunyai osmolaritas (konsentrasi) yang berbeda dengan air di dalam tubuhnya, sehingga perpindahan air keluar-masuk badan ikan tersebut tak sanggup terelakkan - lihat kembali bahan prosedur transpor zat. Kondisi ini memaksa badan ikan untuk mengikuti keadaan dengan baik, sebab masuk-keluarnya air yang berlebihan akan membahayakan keberlangsungan hidupnya.

Gambar 3. Ikan Air Laut, sumber: biology 8th edition (Campbell, et. al.)


Laut ialah satu-satunya kawasan dengan kondisi ekstrem di bumi yang dihuni oleh ribuan spesies makhluk hidup. Salinitas di bahari rata-rata mencapai angka 35 ppt, itu artinya air bahari selalu lebih hipertonis dibandingkan cairan dalam badan sebagian besar spesies binatang yang tinggal di dalamnya, contohnya ikan. Ikan air bahari telah teradaptasi dengan kondisi bahari yang berkadar garam ekstrem, di mana sebagian besar binatang darat akan mati kehabisan cairan kalau berlama-lama di dalamnya, termasuk manusia. Hal ini dikarenakan, kondisi air bahari yang hipertonis akan memicu osmosis air dari cairan badan binatang untuk keluar. Ikan air bahari telah mempunyai cara paling efisien untuk menghadapi hal tersebut, yaitu dengan regulasi pemasukan air dan pengeluaran urin yang khas. Mekanisme fisiologis tersebut sanggup dilihat pada gambar berikut,

Gambar 4. Osmoregulasi Pada Ikan Air Laut dan Ikan Air Tawar, sumber: biology 8th edition (Campbell, et. al.)


Ikan air bahari akan secara aktif meminum air bahari sebanyak-banyaknya untuk menggantikan cairan tubuhnya yang hilang ke luar. Namun dampaknya badan ikan terlalu banyak kemasukan garam, sehingga garam itu harus dikeluarkan. Garam tersebut dikeluarkan melalui insangnya dan melalui urin yang sedikit dan sangat pekat. Hal ini sangat kontradiktif dengan ikan air tawar. Ikan air tawar hidup di medium yang selalu hipotonis dibandingkan dengan cairan di dalam tubuhnya, imbasnya air dari lingkungan selalu berosmosis masuk ke badan ikan secara cuma-cuma. Kondisi ini menciptakan ikan menjadi kelebihan cairan dalam tubuh, hal yang tidak terlalu baik. Ikan air tawar harus mengeluarkan kelebihan cairan tersebut untuk menjaga keseimbangan tubuhnya. Ikan air tawar menjadi sedikit minum, dan bayak mengeluarkan air melaui urinnya yang sangat banyak dan encer. Mekanismenya digambarkan pada Gambar 4 di atas.

Osmoregulasi Pada Burung Laut

Sebagian jenis burung menggantungkan hidup mereka pada laut, mereka disebut burung laut. Burung bahari yang dimaksud bukanlah penguin, melainkan burung daratan yang hidup dalam peruntungan mereka dengan mencari makan di laut, menyerupai pelikan, albatros dan camar. Burung bahari memangsa ikan yang ada di laut, tak mungkin terelakkan, burung bahari juga meminum air bahari dalam jumlah besar sesuai besarnya perburuan ikan. Akibatnya, kadar garam dalam badan burung bahari meningkat signifikan setiap kali makan, hal ini mengubah keseimbangan tekanan osmotik dalam badan burung tersebut. Burung bahari mempunyai prosedur tersendiri untuk mengatasi kondisi ini, mereka mempunyai kelenjar garam pada hidung mereka, yang memungkinkan pengeluaran garam secara efisien. Mekanisme tersebut disajikan pada gambar berikut.

Gambar 5. Kelenjar Garam Pada Burung Laut, sumber: biology 9th edition (Campbell, et. al.)

===========================
Demikianlah pemaparan bahan osmoregulasi pada beberapa jenis hewan, termasuk manusia. Sebagai penguat pemahaman, lebih baik mempelajari juga bahan Sistem Ekskresi Pada Manusia dan Mekanisme Transpor Lintas Membran, dan juga bahan Ekskresi Pada Beberapa Jenis Hewan. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Jika ada kebenaran itu ialah karunia Allah, dan kalau terdapat kekurangan itu ialah keterbatasan penulis.
Read More

Rabu, 29 Maret 2017

Sistem Ekskresi Pada Manusia: Hati, Paru, Dan Kulit

Ekskresi yakni proses dasar badan untuk menyelamatkan diri dari keracunan internal tanggapan sisa metabolisme yang tiba setiap saat. Artikel sebelumnya telah membahas sistem ekskresi urinaria atau ginjal sebagai sistem/organ ekskresi utama. Ginjal dalam menjalankan fungsi ekskresi tidak bersendirian, alasannya yakni jikalau demikian ginjal niscaya kualahan menghadapi banyaknya sisa metabolisme yang harus dikeluarkan. Nah, dalam menjalankan fungsi ekskresi, ginjal ditemani oleh organ ekskresi lainnya, yaitu Hati, Paru, dan Kulit.

Gambar 1. Skema Sistem Ekskresi


HATI

Hati merupakan kelenjar terbesar dalam badan manusia. Bobot hati sanggup mencapai 2,5% bobot badan manusia. Terletak di bawah diafragma, di cuilan rongga perut sebelah atas dan melebar sampai setengah rongga perut. Hati mempunyai bentuk segitiga siku-siku yang tumpul, yang terbagi dalam dua lobus, lobus kanan yang besar dan lobus kiri yang kecil. Hati berwarna merah kehitam-hitaman.

Gambar 2. Struktur Hati, sumber: dari aneka macam sumber (google image)


Hati mempunyai peranan penting dalam menetralkan racun, khususnya Hidrogen Peroksida (H2O2), merombak sel darah merah, dan merombak asam amino. Hati juga berperan dalam pencernaan masakan di usus halus, yaitu dengan menghasilkan garam dan warna empedu untuk pencernaan lemak. Dalam menjalankan fungsi ekskresi, hati berperan dalam mengeluarkan urea sisa perombakan asam amino dan urobilin (bilirubin dan biliverdin) yang merupakan zat warna empedu sisa dari perombakan sel darah merah. Hati tidak mempunyai jalan masuk keluar (ekskresi) sendiri, sehingga sebagian besar ekskret (sisa metabolisme) dari hati dilanjutkan ke jalan masuk pencernaan dan dikeluarkan melalui defekasi, dan sebagian lagi dikeluarkan melalui urin. Karena itulah ekskret hati bercampur dengan feses dan urin menyebabkan feses dan urin berwarna kekuning-kuningan. Urea, secara khusus, memperlihatkan bacin khas pada urin manusia.

Gambar 3. Skema Ekskresi oleh Hati


PARU

Paru-paru sejatinya yakni organ pernapasan. Namun, dalam menjalankan pernapasan, paru-paru juga bertindak sebagai organ ekskresi. Paru-paru terletak di rongga dada, berada di dalam naungan tulang rusuk, tulang dada, dan tulang belakang. Paru-paru berbentuk kantung besar lentur yang sanggup mengembang dan mengempis. Paru-paru terdiri dari dua kantung besar, yaitu paru-paru kanan dengan tiga ruang dan paru-paru kiri dengan dua ruang. Unit fungsional paru-paru yakni alveolus yang menjadi daerah pertukaran udara pernapasan, termasuk juga pintu pembuangan sisa metabolisme pernapasan (respirasi).

Gambar 4. Struktur Paru-Paru, sumber: biology 8th edition (Campbell, et. al.)


Ekskresi yang terjadi di paru-paru yakni proses yang bersamaan dengan pernapasan. Sisa metabolisme pernapasan yang dimaksud yakni hasil samping pembentukan energi, yaitu karbondioksida (CO2) dan uap air (H2O). Oksigen yang dipakai untuk pembakaran glukosa akan dikembalikan dalam bentuk air (H2O) dan Karbon dari glukosa tersebut akan dikeluarkan dlaam bentuk karbondioksida (CO2). Lebih ringkasnya digambarkan dalam denah reaksi respirasi berikut ini:

O2 + Glukosa ---> CO2 + H2O + Energi

CO2 dan H2O berbentuk gas, dan harus dibuang alasannya yakni bersifat racun, sanggup menciptakan kembung (begah) dan sanggup menyumbat anutan darah. Pembuangan sisa metabolisme dalam bentuk gas menyerupai ini dilakukan oleh paru-paru.

KULIT

Kulit yakni organ terluar tubuh, yang melapisi badan insan sehingga terlihat anggun dan bagus. Kulit selain sebagai keindahan tubuh, berperan utama sebagai perlindungan dan menjalankan fungsi fisiologis penting sebagai penjaga suhu tubuh. Struktur kulit sanggup dilihat pada gambar berikut:

Gambar 5. Struktur Kulit, sumber: biology 8th edition (Campbell, et. al.)


Ada sebuah keberatan, bagi penulis, untuk mengkategorikan kulit sebagai organ ekskresi, yang terakhir. Sebab kulit tidak secara aktif mengeluarkan ekskret, atau sanggup dibilang tidak berorientasi untuk ekskresi. Kulit lebih berperan dalam proteksi, resepsi (penanggapan rangsang), dan thermoregulasi (pengaturan suhu). Namun, mengapa kulit disebut organ ekskresi? Untuk menjawabnya, perhatikan denah pengeluaran keringat berikut ini:

Gambar 6. Skema Pengeluaran Keringat


Berdasarkan denah tersbut, ternyata kulit "tidak sengaja" berekskresi selagi menjalankan fungsinya sebagai pengatur suhu. Keringat yang dikeluarkan bukanlah ekskret murni, melainkan sebuah upaya untuk membuang panas badan yang berlebihan tanggapan rangsangan lingkungan. Namun, jikalau yang dimaksud sisa metabolisme yakni juga "panas", maka sempurna jikalau kulit dinobatkan sebagai organ ekskresi. Mungkin, alasannya yakni prosedur yang demikian itu mengapa keringat menjadi sedikit asin dan berbau khas, rupanya mengandung garam dan urea.

GANGGUAN PADA ORGAN EKSKRESI: Hati, Paru, dan Kulit

Hepatitis, Sirosis, dan Kanker Hati
Gangguan ini merupakan gangguan parah yang dialami hati manusia, sehingga menyebabkan proses perombakan sel darah merah dan asam amino tidak lancar, bahkan gagal. Akibatnya darah akan keracunan oleh sel darah yang telah rusak/mati. Hal ini sanggup diketahui dengan gejala-gejala tertentu, menyerupai kuku menghitam, kulit dan mata menguning, feses menghitam, urin gelap, sakit di ulu hati, nafsu makan berkurang, kembung, dan badan lemah.

Asfiksi dan Asidosis
Pengangkutan CO2 hasil metabolisme energi ke luar badan menjadi syarat mutlak supaya badan tidak mengalami reaksi pengasaman (asidosis) tanggapan kelebihan asam bikarbonat (HCO3) yang merupakan molekul utama pengangkut CO2 dalam darah. Asidosis merupakan imbas lanjutan dari gangguan pengangkutan O2 (asfiksi) alasannya yakni dalam darah terlalu banyak CO2, alhasil penderita sanggup mengalami kekurangan oksigen, anemia, bahkan keracunan CO2 (asidosis).

Radang, Luka, Infeksi Jamur, dan Gangguan Kulit Lainnya
Gangguan pada kulit umumnya memang masuk akal terjadi pada seseorang. Seperti luka, peradangan (ruam dan perih) kulit, dan nanah jamur (panu, kutu air). Semua gangguan tersebut kuat dalam produksi keringat oleh kulit. Karena kulit yang terganggu akan sedikit lambat dalam merespon lingkungan, sehingga keringat yang harus dihasilkan tidak sebagaimana mestinya.

==========================

Demikianlah pembahasan ringkas mengenai sistem ekskresi pada manusia, khususnya pada organ hati, paru, dan kulit. Semoga yang sedikit ini bermanfaat dan sanggup menambah wawasan kita mengenai karunia Allah yang ada pada diri kita sendiri. Jika ada kesalahan itu datangnya dari penulis, jikalau ada kebenaran itu semata-mata karean taufiq dari Allah. Lebih bagus bagi pembaca untuk menambah wawasan dari daerah lain. Silakan tinggalkan komentar.
Read More

Selasa, 29 Maret 2016

Sistem Ekskresi Pada Manusia: Ginjal (Urinaria)

Ekekresi ialah proses pengolahan dan pengeluaran zat sisa metabolisme yang sudah tidak terpakai lagi dan akan membahayakan badan kalau tidak dibuang. Sistem ekskresi pada insan terdiri dari 4 organ dasar, yaitu: Ginjal, Hati, Paru-paru, dan Kulit. Pembahasan kali ini akan berfokus pada sistem urinaria atau sistem ekskresi yang menghasilkan urin (air seni) dengan organ utamanya berupa ginjal. Pembahasan Hati, Paru, dan Kulit silakan klik di sini.

Gambar 1. Skema Sistem Ekskresi


STRUKTUR GINJAL

Sistem urinaria merupakan sistem eksresi utama. Sistem ini dijalankan oleh organ yang disebut ginjal. Ginjal berbentuk ibarat kacang merah, dengan ukuran sekepalan tangan, berjumlah sepasang (kanan dan kiri), terletak di pinggang kepingan belakang. Dalam menjalankan fungsinya, ginjal tidak bekerja sendiri, ginjal hanya berfungsi untuk memproduksi urin, sedangkan pengeluarannya melalui susukan keluar ginjal yang terdiri dari ureter, kandung kemih, dan uretra. Ginjal dibagi dalam 3 bagian, korteks (kulit), medula (sumsum), dan pelvis.

Gambar 2. Ginjal Manusia, sumber: biology 9th edition (Campbell, et. al.)


Korteks (Kulit Ginjal)

Korteks ginjal ialah lapisan terluar ginjal. Lapisan ini dipenuhi oleh pembuluh darah dan saluran-saluran halus yang disebut dengan Nefron. Pada kepingan ini terdapat gulungan pembuluh darah kapiler yang disebut dengan Glomerulus. Glomerulus dibungkus oleh pangkal Nefron yang disebut Simpai Bowman, struktur ini disebut Badan Malphigi. Selain Badan Malphigi, susukan Nefron yang berada di wilayah korteks mencakup Tubulus Proksimal dan Tubulus Distal. Korteks berperan penting dalam penyaringan darah dan absorpsi zat berkhasiat dari dalam urin.

Medula (Sumsum Ginjal)

Medula merupakan lapisan ginjal yang berada di tengah-tengah. Medula mengisi sebagian besar ginjal, dan merupakan wilayah yang penting bagi proses pemekatan urin. Medula berbentuk segitiga tumpul, dan berisi kelanjutan saluran-saluran Nefron dari korteks. Namun tidak semua susukan Nefron masuk ke Medula. Nefron yang menembus Medula disebut dengan Nefron Jukstamedulari, sedangkan Nefron yang hanya ada pada Korteks disebut dengan Nefron Kortikal. Saluran Nefron Jukstamedulari yang berada pada kepingan medula hanya ada 2, yaitu Lengkung Henle dan Duktus Pengumpul.


Pelvis Renalis

Pelvis renalis merupakan muara dari banyak sekali duktus pengumpul dari seluruh medula ginjal.FUngsinya ialah menghubungkan ginjal dengan susukan keluar ginjal. Pelvis Renalis menyambung dengan ureter.

Gambar 3. Korteks dan Medula Ginjal, sumber: biology 9th edition (Campbell, et. al.)


Ureter

Ureter merupakan susukan berbentuk pipa yang merupakan kelanjutan dari pelvis renalis. Ureter berjumlah sepasang dan bermuara di sebuah kandung kemih.

Kandung Kemih (Vesika Urinaria)

Kandung kemih merupakan sebuah kantung penampungan sementara yang terkahir bagi urin sejati sebelum dikeluarkan ke lingkungan melalui uretra. Kandung kemih mempunyai dua susukan masuk (ureter) dan satu susukan keluar (uretra).

Uretra

Uretra merupakan susukan keluar terakhir urin sejati. Uretra berupa susukan dengan dinding cukup lentur untuk mengembang dan menyusut ketika dilewati urin. Hal ini dikarenakan uretra dilapisi epitel kubus berlapis transisional. Pada laki-laki, uretra juga berfungsi sebagai susukan reproduksi.

FUNGSIONALITAS GINJAL: NEFRON

Fungsi pembentukan urin dilakukan oleh unit fungsional ginjal yang disebut dengan Nefron. Nefron merupakan saluran-saluran halus yang berpangkal pada gulungan pembuluh darah di kepingan korteks ginjal, dan bermuara pada pelvis renalis.

Gambar 4. Nefron dan Bagiannya, sumber: biology 9th edition (Campbell, et. al.)



Nefron mempunyai beberapa kepingan dimana setiap bagiannya mempunyai fungsi masing-masing. Kelima kepingan tersebut dan fungsinya ialah sebagai berikut:

Glomerulus: Filtrasi / Penyaringan Darah

Glomerulus, ibarat klarifikasi awal, merupakan gulungan pembuluh darah yang dibungkus oleh simpai Bowman. Glomerulus mempunyai fungsi untuk menyaring darah (filtrasi) dengan mencegah molekul besar ibarat protein, lemak, dan polisakarida masuk ke dalam urin dan meloloskan molekul kecil ibarat asam amino, glukosa, dan garam mineral. Dengan adanya fungsi ini, maka sangat mustahil, secara normal, ditemukan adanya darah dalam urin. Cairan hasil filtrasi glomerulus yang masuk ke dalam susukan nefron disebut urin primer.

Tubulus Proksimal: Reabsorbsi / Penyerapan Kembali Molekul Berguna

Urin primer hasil filtrasi glomerulus selanjutnya memasuki susukan yang disebut dengan Tubulus Proksimal (TKP). Urin primer yang masih mengandung molekul kecil yang, mungkin, masih diharapkan badan harus dijernihkan dengan menyerap kembali molekul-molekul tersebut (Reabsorbsi). Molekul yang diserap kembali itu ialah Asam bikarbonat, Air, NaCl, Nutrients (glukosa, asam amino, vitamin, dll), dan ion K. Setelah semua molekul itu diserap, maka urin berada dalam keadaan paling jernihnya, urin ini disebut urin sekunder.

Gambar 5. Nefron dan Proses yang Terjadi, sumber: biologi 9th edition (Campbell, et. al.)


Lengkung Henle: Bagaimana Kepekatan Urin Diatur

Lengkung Henle merupakan susukan Nefron yang mempunyai susukan turun dan susukan naik dengan lengkungan di kepingan dasarnya. Lengkung Henle mempunyai fungsi mengatur kepekatan urin. Urin skunder dari Tubulus Proksimal mempunyai kejernihan yang tinggi, sehingga sangat encer. Ketika memasuki susukan menurun lengkung Henle, urin sekunder dipekatkan dengan menyerap air yang tersisa, sehingga kondisi kepekatan maksimal pada dasar lengkung Henle. Kemudian, ketika urin sekunder memasuki susukan naik lengkung Henle, urin sekunder akan kembali diencerkan dengan menyerap kembali NaCl yang masih tersisa. Pada kepingan ini juga terjadi penambahan urea (sisa metabolisme asam amino di hati), yang menimbulkan urin berbau khas (pesing). Sampai diujung lengkung Henle, urin sekunder berada pada kondisi yang paling encer.

Tubulus Distal: Augmentasi / Sebuah Mekanisme Penghematan Air

Urin sekunder dari lengkung Henle akan memasuki Tubulus Distal. Pada tubulus ini, urin sekunder mengalami augmentasi, yaitu diserap darinya air, NaCl, dan Asam bikarbonat. Secara khusus, proses ini disebut absorpsi air. Mekanisme ini ialah salah satu upaya, terakhir, bagi badan untuk mencegah kehilangan air berlebih. Namun, kalau kondisi air dalam badan melimpah, maka melalui proses ini juga air akan dibuang ke urin. Hasil dari augmentasi ialah urin sejati.

Gambar 6. Pemekatan Urin, sumber: biology 9th edition (Campbell, et. al.)


Duktus Pengumpul: Saluran Temu Nefron

Disebut Duktus Pengumpul bukan lantaran fungsinya menampung urin, melainkan lantaran menjadi susukan temu (kumpul) beberapa susukan nefron lainya. tidak banyak proses yang terjadi di sepanjang Duktus Pengumpul, melainkan hanya absorpsi air dan NaCl yang menimbulkan urin semakin pekat sempurna sesaat sebelum dimasukkan ke pelvis renalis untuk kemudian dikeluarkan dari badan melalui susukan keluar ginjal.

GANGGUAN YANG BERKAITAN DENGAN URINARIA

Glikosuria
Gangguan ini mempunyai tanda-tanda adanya glukosa di dalam urin. Keberadaan glukosa sanggup diketahui dengan mengamati bekas kemih di toilet atau WC, kalau terdapat semut yang mengerubunginya maka bisa dimungkinkan pemiliki urin menderita glikosuria. Glikosuria ialah penyakit yang disebabkan oleh kerusakan pada Tubulus Proksimal, sehingga menimbulkan absorpsi molekul kecil, utamanya glukosa, tidak bisa diserap kembali.

Albuminuria
Gangguan ini ditandai dengan adanya protein dalam urin. Protein utama dalam urin yang dimaksud ialah Albumin yang memang berada dalam darah. Secara normal, mestinya tidak perlu ada protein dalam urin, lantaran sudah disaring pada glomerulus (filtrasi). Namun, kerusakan glomerulus sanggup memungkinkan gangguan ini terjadi.

Poliuria
Secara normal, poliuria bukanlah gangguan. Hanya berupa pembiasaan fisiologis badan terhadap kelebihan cairan atau yang lain. Poliuria merupakan keadaan dimana seseorang terlalu banyak mengeluarkan urin. Hal ini sanggup dipicu oleh cuaca dingin, konsumsi obat atau komplemen (misalnya, vitamin), atau ketika kondisi badan melemah atau demam. Gejalanya ialah penderita akan mengalami kemih (buang air kecil) lebih sering atau lebih banyak dari biasanya.

Oligouria
Gangguan ini ialah kebalikan dari Poliuria, yaitu gangguan dimana urin yang dihasilkan sangat seidkit. Namun, oligouria mempunyai efek yang lebih serius, lantaran bisa menjadi indikasi kegagalan ginjal dalam meproduksi urin

Anuria
Anuria ialah bentuk gangguan yang sering terjadi jawaban kegagalan ginjal memproduksi urin. Hal ini sanggup terjadi sebagai gangguan lanjutan Albuminuria dan Oligouria. Anuria sangat berbahaya karena sanggup menimbulkan keracunan jawaban darah yang terkotori oleh urin (Uremia). Jika hal ini terjadi, maka penanggulangan dengan cara dialisis darah (cuci darah) ialah langkah yang bijak.

Nefritis
Nefritis ialah radang nefron jawaban benjol basil atau erosi oleh alkohol. Nefritis menimbulkan rusaknya susukan nefron, baik sementara atau permanen, yang menimbulkan proses pembentukan urin menjadi terganggu. Jika Nefritis terus berlanjut dan semakin parah, sanggup menimbulkan penyakit yang lebih berbahaya, ibarat gagal ginjal.

Diabetes Melitus
Diabetes melitus (DM) sesungguhnya bukan gangguan pada urinaria. DM merupakan penyakit yang disebabkan badan tidak bisa menghasilkan insulin untuk menyerap glukosa dalam darah, sehingga kadar glukosa dalam darah sangat tinggi. Kadar glukosa yang sangat tinggi ini menimbulkan proses urinaria menjadi berat, terutama dalam reabsorbsi di tubulus proksimal. Karena terlalu banyaknya glukosa dalam urin, sehingga tidak memungkinkan semua glukosa diserap di tubulus proksimal, risikonya urin penderita DM mengandung glukosa. Gejalanya persis dengan Glikosuria, namun penyebabnya yang berbeda.

Diabetes Insipidus
Diabetes insipidus (DI) diakibatkan oleh ketidakmampuan badan menghasilkan hormon antideuretik (ADH). Hormon tersebut berkhasiat untuk meningkatkan permeabilitas tubulus distal, sehingga absorpsi air semakin ditingkatkan. Penderita DI akan kekurangan banyak ADH yang diperlukan, sehingga permeabilitas tubulus distal menurun, menimbulkan absorpsi air tidak terlaksana, sehingga urin menjadi encer dan banyak (volumenya). Gejalanya ibarat dengan poliuria, hanya saja DI lebih sistemik.

Demikian dulu materi biologi mengenai sistem eksresi pada insan khusus pada urinaria atau organ ginjal. Semoga materi ini bermanfaat bagi kalian semua. Akan lebih baik kalau kalian meninggalkan KOMENTAR dan men-SHARE artikel ini. Terima kasih.
Read More